Maria José Arana

Mistisisme adalah sebuah kata berkelamin feminin dalam bahasa Spanyol dan juga bahasa Jerman. Kata itu menunjuk kepada apa yang ada di dalam, emosi, anima. Mistisisme itu dinamis; ia menjelaskan cara mencintai/mengasihi. Mistisisme juga dialektis dan bermakna kemajuan dan istirahat, ekstasi dan konsentrasi, kegelapan dan cahaya terang, semuanya pada waktu yang sama.

Spiritualitas mistis bukanlah tak mementingkan soal-soal duniawi, tetapi merupakan cara khusus untuk melihat dunia: merasakan dan membawa kuasa cinta/kasih bekerja di dalamnya. Mistisisme dunia seperti itu mempunyai komponen sosialnya, sebuah kekuatan, yang terhubung ke dan mencita-citakan ke arah atas. Hati adalah tempat dimana rahasia mistis ini dilindungi. Amsal 4:23: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (TB-LAI 74)

Kerja hati adalah tentang kepedulian terhadap penderitaan dunia ini dan bekerja menghapuskan penderitaan, berkomitmen diri untuk menegakkan keadilan, mengupayakan supaya terjadi perubahan dalam hubungan-hubungan manusia agar dunia kita ini dapat berkembang menjadi baik. Mistisisme dan transformasi dunia saling terhubung satu dengan yang lain, menyatu satu sama lain.

“… perhatikanlah keadaanmu” begitu terjemahan untuk Haggai 1,5[1]. Alkitab dalam bahasa Spanyol dan teks asli Ibrani dari ayat ini kira-kira adalah sebagai berikut: “Bekerja dengan hatimu dalam perjalananmu” menuju ke kehidupanmu. Ini mencakup re-orientasi hubungan kita. Kita semua saling terhubung dan perlu sadar akan hal ini (1Kor. 12). Spiritualitas semacam ini dikembangkan oleh anima, feminin, dalam semua keluasannya dan dalam kedua gender yang ada. Hubungan-hubungan yang sudah dikembangkan dengan baik akan mendatangkan sukacita dan merupakan kuasa yang menyembuhkan yang mengalir keluar dari hati Tuhan.

Tanggung jawab manusiawi ini menimbulkan dimensi mistisisme ekumenis. Tujuan kerja hati adalah untuk membujuknya supaya keluar. Pada Sidang Raya DGD, didapati bahwa banyak perempuan terlibat dalam jenis pekerjaan ini. Hasilnya adalah sebuah teologi feminis interdenominasional dengan visi yang melampaui batas-batas agama, budaya, dan benua masing-masing kaum perempuan yang ada di dalamnya. Jadi, kita mengenal Tuhan Allah di dalam semua bangsa. Tetapi, teologi feminis sebagai sebuah teologi pembebasan tidak hanya peduli dengan urusan kaum perempuan di seluruh dunia; teologi feminis juga mempengaruhi kaum laki-laki. Kita harus mendapatkan cara bersama untuk memperlihatkan iman kita di dunia sekarang ini. Ini memerlukan dimensi mistis, sebuah kerja hati yang dibimbing oleh hikmat dan kasih. Sekarang ini, perspektif-perspektif baru sedang terbuka.

Guest from Cameroon with Grace Eneme in Basel, (c) Mangold Barbara

Teks ini sudah dibaca oleh Irmgard Frank, Presiden dari Komisi Kaum