after Berit Ås

Mary John Mananzan, Direktur Eksekutif Institut Studi mengenai kaum perempuan di Filipina, memberi penjelasan dalam Catatan Penerbit sebuah buku yang mempresentasikan tulisan Berit Ås berjudul “Master Suppression Techniques” (Teknik mengatasi tekanan), bahwa ini “adalah metode-metode yang dipergunakan manusia baik sadar maupun tidak sadar untuk membuat perempuan menjadi pasif, tunduk dan tertindas. Ketika perempuan sadar akan teknik-teknik ini, maka mereka dianggap tak bersalah – kekuatan mereka hilang pada waktu mereka menyadarinya.”[1]

Berit Ås, seorang politikus Norwegia dan psikoanalis sosial, mengembangkan teori tentang teknik-teknik mengatasi tekanan lebih dari 20 tahun silam. Teknik-teknik serupa digunakan untuk menundukkan semua kelompok yang ditekan. Akan tetapi, Berit Ås yakin bahwa teknik-teknik itu digunakan di dalam kombinasi tertentu dan di dalam situasi yang mempengaruhi kaum perempuan, terkait dengan definisi masyarakat patriarkhat mengenai perempuan sebagai obyek atau sebagai harta milik. Lima teknik mengatasi tekanan yang diidentifikasi oleh Berit Ås adalah sebagai berikut:

  • Menjadikan tidak terlihat
  • Menertawakan
  • Menahan Informasi
  • Terkutuk jika ya dan terkutuk jika tidak
  • Menimbun kesalahan dan membuat malu

Sekarang ini kita menemukan pengembangan ekstensif dari teknik-teknik ini. Misalnya, ada kelompok dominan yang merasa dirinya mempunyai hak untuk merumuskan realitas dan membuang hal-hal tertentu karena dianggap tidak relevan, atau keputusan mana yang dianggap tidak rasional. Teknik-teknik itu juga melalui upaya stereotipe yang mengunci kita di dalam posisi atau peran yang sudah ditentukan sebelumnya. Pada aras struktural, teknik-teknik ini dapat dilihat melalui klaim yang menyatakan bahwa kaum perempuan lebih cocok untuk pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan administrasi atau pekerjaan yang merawat orang. Juga pada aras struktural, teknik-teknik ini tampak melalui pelecehan seksual, dalam arti bahwa fitnah dan umpat terhadap kaum perempuan adalah praktek yang menyebar luas melalui reklame, sama seperti soal eksploitasi seksual menyebar di media komunikasi. Pada aras individual, teknik itu bisa mencakup perlakuan seksual yang tidak pantas dan tidak bisa diterima umum, baik dengan kata-kata maupun secara fisik, atau kedua-duanya; begitu juga perlawanan penuh kebajikan seperti perlawanan dalam rangka menuntut kesempatan yang sama di zaman dimana kebijakan kesetaraan gender sudah diterima umum. Gagasan mengenai kesetaraan sudah diakui secara luas dalam teori, akan tetapi tidak ada tindakan yang dilakukan di dalam praktek. Pada level individu hal ini bisa jadi melibatkan pelecehan sexual, baik secara verbal maupun fisik atau bahkan keduanya, yang sangat tidak  pantas dan yang tidak diinginkan, sebagaimana juga resistensi sebagai sebuah tindakan yang baik untuk menuntut kesempatan menjadi setara pada jaman di mana kebijakan gender mendapat sanksi secara umum. Ide tentang kesetaraan telah terbukti secara luas sebagai sebuah teori, namun belum ada tindakan nyata yang menempatkan ide ini pada tataran praktis. Oposisi ‘tak terlihat’ menghalangi perubahan, dengan banyak sekali kata-kata tetapi tidak ada aksi konkret.

Dalam Pra-sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia ke- 10 untuk kaum perempuan dan laki-laki di Busan, kaum perempuan dari benua yang berbeda diminta untuk berbagi kesaksian mereka mengenai teknik penindasan mana yang terjadi di dalam kehidupan mereka dan strategi-strategi apa yang mereka gunakan untuk mengatasi tekanan-tekanan tersebut. Berikut ini kami hadirkan catatan-catatan yang menyentuh yang diberikan oleh professor Un-Sunn Lee dari Korea Selatan:

“Pertama-tama, teknik menekan untuk ‘membuat tak terlihat’ yang saya alami terutama dalam peran saya sebagai istri dari seorang pastor dalam kegiatan-kegiatan di dalam gereja suami saya. Oleh karena suami saya adalah juga seorang profesor di sebuah seminari teologi, kehidupannya sebagai pastor berbeda dengan pastor-pastor lainnya. Namun, ia siap membuat saya tidak terlihat di dalam gereja sebagai pastor. Saya memprotesnya dengan sangat, dan kemudian saya menyadari betapa sulitnya bertingkah laku lain di dalam kehidupan gereja Korea yang sesungguhnya, meskipun ia sangat tahu tentang pemikiran feminis dan teologi pembebasan. Bagi saya, dari pada mengalami hal-hal yang memalukan, saya tidak pernah berpikir untuk ditahbiskan (menjadi pastor), karena saya tahu benar karakter menekan adalah dasar dari sistem penahbisan pejabat gereja tradisional yang berlaku di dalam gereja.”

“Bagi saya, yang lebih menyakitkan terkait dengan teknik menahan informasi adalah ketidakjujuran, dimana mereka mengambil pengetahuan atau informasi saya tanpa mengakui atau mengatakan secara terbuka sumber aslinya. Ini merupakan kebiasaan lama mereka untuk memandang sesuatu sebagai milik mereka padahal sebetulnya bukan milik mereka, melainkan milik perempuan atau istri mereka. Sekalipun demikian, sambil berhadapan dengan rasa ketidakadilan ini, saya juga jadi teringat pengajaran Alkitab bahwa kita tidak boleh menyebutkan hal-hal baik yang telah kita lakukan. Dengan semua kekacauan ini, saya menjadi lelah dan malu. Inilah yang disebut oleh Berit As sebagai “menimbun kesalahan dan membuat malu.”

Prof. Dr. Un-sunn Lee adalah profesor untuk bidang studi Asia dan filsafat pendidikan, Sejong University, Seoul. Tulisan umatanya adalah Feminist Transversal Studies in Confucianism and Christianity.

Prof Lee juga merupakan mantan Wakil Ketua dari Komite Teologi di KAWT, serta Presiden dari Asosiaso Fakultas Kristen Korea.

[1] http://eng.kilden.forskningsradet.no/c53296/artikkel/vis.html?tid=53283

[2] “Think carefully about how you are living” (NIRV), “Think about what is happening” (Easy to Read Version), “Consider your ways“ (King James), or “Give careful thought to your ways.” (NIV)

[:]