Pekerjaan: Pendeta Gereja Kristen Pasundan (GKP), Indonesia

1. Bagaimanakah Anda terhubung pertama kali dengan Mission 21 atau Basel Mission?

Saya terhubung pertama kali dengan Basel Mission melalui pelatihan ekumenis di Swiss pada 1998. Setelah itu, saya melanjutkan kerja sama dengan Basel Mission hingga saat ini melalui Mission 21 untuk program Keadilan Gender di Gereja Kristen Pasundan, Indonesia.

2. Apa saja kontribusi yang telah Anda berikan bagi pemberdayaan perempuan?

Kontribusi saya bagi pemberdayaan perempuan adalah melalui pekerjaan saya di Komisi Perempuan Gereja Kristen Pasundan. Saya telah merancang dan mengimplementasikan program-program perempuan seperti pelatihan kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi melalui bengkel-bengkel kain perca, pelayanan bagi korban-korban kekerasan (mendirikan Pusat Krisis Perempuan) serta mengadakan pendalaman Alkitab dengan metode Membaca Alkitab dengan Mata Baru.

3. Menurut Anda, mengapa pemberdayaan perempuan adalah sesuatu yang penting bagi organisasi-organisasi berbasis agama?

Berdasarkan realitas, para perempuan masih hidup dalam subordinasi. Mereka hidup dalam lingkar kekerasan dan situasi buruk lainnya dalam masyarakat. Organisasi-organisasi berbasis agama adalah bagian yang integral dalam masyarakat dan bahkan dunia. Dengan demikian, kita memiliki tanggung jawab untuk mencapai keadilan (secara fundamental kesetaraan perempuan) dan perdamaian dalam masyarakat kita. Untuk itulah kita memerlukan pemberdayaan.