Dalam Women’s Letter kali ini, kamimembagikan teks-teks yang dipresentasikan dalam peluncuran program dan yang dipresentasikan dalam sebuah workshop yang disebut Integral Leadership for Political Advocacy di Basel dan workshop Women’s Human Rights Advocacy yang diadakan di Jenewa.

Vistamika Wangka membagikan kepada kita pelajaran-pelajaran yang ia terima ketikamemimpin sebuah pusat bagi para migran pekerja rumah tanggamelalui Sebuah Perjalanan Singkat dalam Karya Advokasi—Catatan Singkat dari Pengalaman Pribadi Bersama Pekerja Migran Domestik Indonesia di Hong Kong.Konsep ruang aman dan arti sisterhood secara khusus dilihat relevan olehnya: «Hal ini merupakan sebuah perasaan yang memampukan kami untuk saling melihat sebagai saudari, dan bertindak

dengan jujur dan penuh hormat satu dengan lainnya,» kata Wangka. Melania Mrema Kyando berbicara tentang kemajuan-kemajuan yang dihasilkan lewat program Gereja Moravia di Propinsi Selatan, Tanzania yang dipimpin olehnya yang bertujuan untuk mencapai suatu generasi bebas AIDS. Sementara itu, Dorothy Tanwani membagikan kepeduliannya terhadap posisi sosial berbahaya yang dihadapi oleh para janda yang menjadi bagian dari advokasi yang dilakukannya, yaitu mempertahankan dan

melindungi. Silvia Regina de Lima Silva berkolaborasi dengan Cecilia Castillo Nanjarí dan Etel Nina Cáceres dalam menyingkapkan realitas menyakitkan dari pembunuhan yang dilakukan secara

khusus terhadap perempuan. Artikel yang berjudul Hak-hak Perempuan membuat kita sadar akan perjalanan panjang yang telah kita lalui untuk menegakkan hak-hak kita dalam suatu konteks di mana fundamentalisme agama menjadi sebuah tren yang terus bertumbuh.

DOWNLOAD HERE