Pekerjaan: Koordinator paruh waktu untuk program kerja advokasi pekerja migran PGI. Program ini didukung oleh Mission 21. Mahasiswi Studi Gender Universitas Indonesia dengan topik tesis seputar isu perempuan pekerja migran.

1. Bagaimanakah Anda terhubung pertama kali dengan Mission 21 atau Basel Mission?

Saya mengenal Mission 21 untuk pertama kalinya ketika saya bekerja untuk Program Kerja Perempuan Komunikasi PGI. Mission 21 mendukung beberapa program seperti pelatihan bagi pendeta perempuan dari gereja-gereja anggota PGI, beasiswa bagi pendeta perempuan, dsb. Bagaimanapun juga, hubungan yang intesif dengan Mission 21 terjadi ketika saya diberikan tanggung jawab untuk memimpin rumah perlindungan bagi pekerja migran domestik di Hong Kong. Proyek shelter ini didanai oleh Mission 21.

2. Apa saja kontribusi yang telah Anda berikan bagi pemberdayaan perempuan?

Saya telah terlibat secara sukarela sebagai Sekertaris Umum Young Women’s Christian Association (YWCA) sejak 2001 hingga April 2015. Melalui YWCA, kami menyediakan suatu ruang aman bagi para perempuan, terutama perempuan muda, untuk bebas belajar, berbagi dan mendapatkan pengetahuan terkait kesadaran gender, dan isu-isu sosial yang memengaruhi kehidupan perempuan.

3. Menurut Anda, mengapa pemberdayaan perempuan adalah sesuatu yang penting bagi organisasi-organisasi berbasis agama?

Pemberdayaan perempuan adalah salah satu kunci utama untuk mendukung dunia yang setara dan adil. Dalam banyak hal, perempuan dianggap lebih rendah daripada laki-laki dan hal ini bahkan terjadi di dalam organisasi-organisasi berbasis iman. Oleh sebab itu, pemberdayaan perempuan adalah suatu keharusan agar perempuan bisa mengetahui hak mereka dan berjuang melawan ketidakadilan dan menghadirkan suatu dunia yang lebih baik bagi semua.